Search

Hadapi Covid-19, AS Gunakan Obat Malaria Meski Belum Terbukti Ampuh - ayobandung.com

WASHINGTON, AYOBANDUNG.COM -- Dokter di Amerika Serikat (AS) telah menggunakan obat hydroxychloroquine untuk mengobati pasien Covid-19. Obat tersebut diketahui telah sering direkomendasikan Presiden AS Donald Trump.

Dilansir dari Reuters, obat tersebut rutin diberikan kepada pasien Covid-19 oleh dokter dan apoteker di sejumlah fasilitas kesehatan di New York, Lousiana, Massachusetts, Ohio, Washington, dan California.

Namun ironisnya, mereka mengakui belum ada bukti apakah obat tersebut bisa menyembuhkan Covid-19. Hydroxychloroquine diketahui biasa dipakai sebagai obat penyakit malaria dan autoimun selama beberapa tahun terakhir.

Penggunaan hydroxychloroquine melonjak setelah AS menjadi pusat penyebaran pandemi Virus Corona. Lebih dari 355.000 orang di AS dinyatakan positif Covid-19 dan lebih dari 10.000 di antaranya telah meninggal dunia.

Pemerintah AS memperkirakan, 240.000 orang di negara itu dapat meninggal dunia karena Covid-19 sebelum wabah berakhir.

Kegawatan itu yang memaksa para dokter AS untuk mulai menggunakan hydroxychloroquine dan chloroquine kepada pasien Covid-19. Mereka hanya mengacu pada sejumlah penelitian kecil yang menunjukkan obat tersebut memiliki khasiat.

Sejumlah dokter bahkan mengaku mendapat tekanan dari pasien untuk menggunakan obat yang direkomendasikan Trump itu.

"Saya mungkin akan mengonsumsinya," ujar Trump pada Sabtu (4/4/2020) lalu, mengacu pada obat hydroxychloroquine. Padahal menurut Gedung Putih, Trump telah dinyatakan negatif Covid-19 setelah dua kali melakukan tes. 

Diketahui, efek samping dari hydroxychloroquine adalah merusak penglihatan dan menyebabkan masalah pada jantung. Namun, dokter yang diwawancarai Reuters mengatakan mereka telah terbiasa meresepkannya kepada pasien Covid-19 karena risikonya relatif rendah, harganya murah, dan stoknya banyak tersedia.

Setiap rumah sakit di AS memiliki aturan yang berbeda mengenai penggunaan hydroxychloroquine, termasuk apakah obat tersebut bisa digabungkan dengan obat lain.

Sejumlah penelitian menunjukkan, pasien sembuh di AS mayoritas masih terjangkit Covid-19 di tahap awal dan belum terlalu parah. Kemungkinan besar mereka bisa sembuh dari virus corona dengan sendirinya.

Para pasien Covid-19 juga mengaku masih merasa sakit meski telah mengonsumsi hydroxychloroquine. Pengakuan tersebut membuat para dokter sulit menentukan apakah obat itu memang benar-benar manjur.

"Saya telah melihat ratusan pasien Covid-19 dan sebagian besar mengonsumsi hydroxychloroquine," ujar Dr Mangala Narasimhan, Direktur Regional Perawatan Kritis di Northwell Health, New York.

"Menurut pendapat saya, meskipun masih sangat dini, saya tidak melihat adanya peningkatan drastis dari hydroxychloroquine pada pasien-pasien ini," jelasnya.

AYO BACA : Amerika Mulai Gunakan Plasma Darah Obati Pasien Covid-19

Seorang dokter spesialis penyakit menular di Lahey Hospital & Medical Center di Burlington, Massachusetts, Dr Daniel McQuillen, mengatakan, dia telah memberikan hydroxychloroquine kepada 30 pasien Covid-19 yang ditanganinya. Menurutnya, obat tersebut berpengaruh sedikit terhadap aktivitas virus, tetapi belum terlihat adanya peningkatan yang nyata bagi kesehatan pasien.

“Secara anekdot, efeknya mungkin terbatas pada pasien dengan penyakit ringan,” kata McQuillen.

Kesaksian pasien Covid-19

Penggunaan hydroxychloroquine dialami langsung oleh David Lat, warga AS pendiri blog Above the Law. Sejak awal Maret, pria berusia 44 tahun ini telah menjalani perawatan setelah divonis positif Covid-19.

Selama sepekan dirawat di NYU Langone Medical Center sejak 16 Maret, kondisinya semakin memburuk sehingga ia harus menggunakan ventilator.

Pada 28 Maret, ia menulis di laman Facebook pribadinya bahwa ia sudah tidak dibantu ventilator dan tidak lagi mendapatkan perawatan intensif karena kondisinya telah membaik secara drastis.

Kepada Reuters, Lat mengaku ia diberi hydroxychloroquine dan antibiotik azithromycin. Dia juga mengonsumsi 2 obat interleukin-6 yang membantu meredakan reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh, yang diduga memicu gangguan pernapasan pada pasien Covid-19. Obat itu bernama Kevzara dan clazakizumab.

"Para dokter belum menyimpulkan apa yang menyebabkan saya bisa sembuh," ujar Lat.

Dr Vladimir Zelenko, dokter umum di New York mengatakan, 3 obat yakni hydroxychloroquine, azithromycin, dan zinc sulfate telah membantu mengobati 200 pasiennya sebelum mereka dirujuk ke rumah sakit. Namun Dr Zelenko belum bisa dihubungi untuk dimintai keterangan.

Sebelumnya, obat malaria dilaporkan telah diuji coba terhadap pasien Covid-19 di Cina. Tim penetili di Marseilles, Prancis, telah merilis data yang menunjukkan 80 pasien Covid-19 dengan gejala ringan telah diobati dengan hydroxychloroquine dan azithromycin.

Sebanyak 93% dari para pasien itu disebutkan tidak lagi terjangkit virus setelah 8 hari.

Para dokter mempertanyakan penelitian itu dan mengatakan penelitian tersebut kurang bisa dipercaya. Pekan lalu, dokter di Paris melaporkan, mereka sudah mencoba meniru hasil penelitian Marseille dan gagal.

AS sudah mulai melakukan penelitian untuk mencari obat Covid-19. Namun para peneliti AS lebih fokus pada obat yang dapat mencegah infeksi virus corona, yang bisa digunakan oleh petugas kesehatan atau orang dalam pemantauan (ODP), bukan digunakan oleh orang yang telah positif.

AYO BACA : Mengenal Tamiflu yang Direkomendasikan Menkes Sebagai Obat Covid-19

Uji coba secara acak terkait obat ini juga sedang dilakukan di negara-negara lain termasuk Cina, Brasil, dan Norwegia.

Rekomendasi Trump

Trump percaya obat malaria bisa bermanfaat bagi pasien Covid-19. Ia bahkan telah meminta pejabat AS untuk memantau persediaan hydroxychloroquine di pasaran.

Melalui akun Twitter pribadinya, bulan lalu Trump mengatakan hydroxychloroquine yang dikombinasikan dengan azithromycin berpotensi untuk mengubah sejarah kedokteran dalam penanganan Covid-19.

Pada akhir Maret, Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS menerima sumbangan jutaan obat hydroxychloroquine dari Novartis AG dan Bayer AG. Obat-obat itu disimpan di Strategic National Stockpile AS sebagai penampungan persediaan medis.

"Presiden Trump mengambil langkah untuk melindungi warga Amerika dari virus corona dan memberi mereka harapan," ujar Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS Alex Azar.

Food and Drug Administration (FDA) AS belum menyetujui hydroxychloroquine sebagai obat Covid-19. Namun badan tersebut telah memberikan izin penggunaan darurat obat anti-malaria itu untuk pasien yang dirawat di rumah sakit ketika dokter menganggapnya tepat.

"Kami belum mengambil sikap apakah dokter harus meresepkannya," ujar Komisaris FDA Dr Stephen Hahn kepada Fox News pekan lalu.

"Kami memberikan fakta dan informasi tentang risiko dan manfaatnya, tetapi penggunaannya benar-benar harus menjadi keputusan dokter-pasien," jelas dia.

Vizient Inc, perusahaan penyedia obat-obatan di AS, mengatakan kepada Reuters bahwa pesanan hydroxychloroquine melonjak menjadi sekitar 1,8 juta tablet per hari pada akhir Maret. Angka itu naik dari rata-rata sekitar 40.000 tablet per hari pada akhir Januari.

Alternatif obat lain

Di samping obat malaria, sejumlah pihak juga sedang melakukan uji coba obat-obatan lain. UCLA dan Nortwell, misalnya, ikut berpartisipasi menguji remdesivir, yang sebelumnya digunakan sebagai obat ebola. Namun, obat ini tak menunjukkan efektivitas saat diberikan ke pasien Covid-19.

Beberapa peneliti lainnya mencoba menguji plasma darah dari pasien yang sembuh dari Covid-19. Metode ini diketahui telah digunakan lebih dari 100 tahun lalu.

Regeneron Pharmaceuticals dan Sanofi SA sedang menguji obat radang sendi Kevzara, atau sarilumab. Roche telah memulai uji coba Actemra, yang juga dikenal sebagai tocilizumab. Keduanya adalah inhibitor IL-6, seperti clazakizumab, yang sedang dikembangkan oleh biotek Vitaeris Inc.

Novartis merencanakan penelitian terhadap obat Jakavi, atau ruxolitinib, yang juga dapat membantu menurunkan badai sitokin, dalam kasus Covid-19 yang parah.

AYO BACA : AS Catat Kasus Penularan Covid-19 Pertama dari Manusia ke Hewan

Let's block ads! (Why?)



"obat" - Google Berita
April 07, 2020 at 01:00PM
https://ift.tt/3aTSpfy

Hadapi Covid-19, AS Gunakan Obat Malaria Meski Belum Terbukti Ampuh - ayobandung.com
"obat" - Google Berita
https://ift.tt/2ZVlmmO
Shoes Man Tutorial
Pos News Update
Meme Update
Korean Entertainment News
Japan News Update

Bagikan Berita Ini

Related Posts :

0 Response to "Hadapi Covid-19, AS Gunakan Obat Malaria Meski Belum Terbukti Ampuh - ayobandung.com"

Post a Comment

Powered by Blogger.